
jejakkejahatan,SUMBA TENGAH|Di tengah terik upacara HUT RI ke-81, Bupati Sumba Tengah Drs. Paulus S.K. Limu mengangkat kembali semboyan kampanye _“Soli Oli Mila Peda Oli Jara”_ atau _Pro Oli Mila_. Artinya: orang miskin harus sama-sama peduli dengan sesama orang miskin agar bisa keluar dari kemiskinan.
Semboyan itu menjadi benang merah pidato Bupati saat memimpin upacara puncak di Lapangan Besar Makatul, Wai Bakul, ibu kota Kabupaten Sumba Tengah, Kamis 17 Agustus 2026.
Di hadapan Forkopimda, DPRD, instansi vertikal, pelajar dan masyarakat, Bupati menegaskan bahwa meski APBD tahun ini mengalami efisiensi, program utama yang menyentuh rakyat miskin tidak boleh dipangkas.
3 Program Strategis Tetap Jalan
Bupati merinci 3 program unggulan yang akan terus digulirkan setiap tahun:
1. Perumahan Rakyat
Rumah Mandiri: 4 unit per desa setiap tahun
Rumah Layak Huni: 1 unit per desa setiap tahun
2. Beasiswa Abadi
200 mahasiswa asal Sumba Tengah mendapat beasiswa setiap tahun
3. PKPOM – Program Keluarga Produktif Oli Mila
Sasaran: 12 KK miskin per desa setiap tahun. Bantuan yang diberikan:
– Ternak kambing: 4 ekor per KK
– Bebek: 5 ekor per KK
– Lele jumbo: 200 ekor per KK
Ditambah pembagian 1.000 bibit kopi Arabika untuk 10 calon petani per desa yang sudah menyiapkan lubang tanam.
“Ini janji kampanye. Ini bukti negara hadir untuk yang paling bawah,” tegas Bupati.
Soal Anggaran dan PPPK
Bupati juga menyinggung efisiensi anggaran tahun ini. Namun ia memastikan honor PPPK dan tenaga paruh waktu tetap aman, setelah ada tambahan anggaran dari pemerintah pusat di pertengahan tahun.
Di akhir pidato, Bupati meminta seluruh masyarakat Sumba Tengah menjaga semangat kerja keras, ketertiban dan kenyamanan. “Itu tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.
Upacara dihadiri Kapolres Sumba Tengah, Brimob, Koramil Katiku Tana, Pimpinan dan anggota DPRD, serta unsur vertikal: Kemenag, BPN, Balai Taman Nasional, BPS, BPJS, BUMN, dan jajaran Pemkab Sumba Tengah.
Dengan _Pro Oli Mila_ sebagai kompas, Pemkab Sumba Tengah ingin memastikan peringatan kemerdekaan ke-81 bukan hanya seremoni. Tapi juga pengingat: kemerdekaan baru bermakna jika rakyat paling miskin ikut merasakannya.
Penulis: Markus












